June 3, 2008

Bagi yang Mau mempunyai anak,perlu diperhatikan

Posted in Health at 6:38 am by Edwin

TORCH adalah istilah yang mengacu kepada infeksi yang disebabkan oleh sejumlah virus (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II (HSV-II) dalam wanita hamil. Infeksi TORCH bersama dengan paparan radiasi dan obat-obatan teratogenik dapat mengakibatkan kerusakan pada embrio.

TOXOPLASMA
Apakah Anda mempunyai binatang peliharaan di rumah? Bila ya, sebaiknya Anda mulai waspada jika ternyata binatang kesayangan Anda adalah kucing. Memilih kucing sebagai binatang kesayangan sering kita temui pada wanita, bahkan kerap kali diajak tidur bersama. Namun bertolak belakang dengan bentuknya yang dianggap manis dan menggemaskan, ternyata kucing berpotensi menularkan penyakit yang cukup mengerikan, khususnya bagi wanita: Toxoplasmosis.
Apa itu Toxoplasmosis ?
Toxoplasmosis atau biasa disebut “toxo” adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bernama Toxoplama gondii. Parasit ini pertama kali ditemukan pada limpa dan hati Ctenodactyles gondii, sejenis hewan pengerat (rodent) dari Sahara, Afrika utara pada tahun 1908. Sedangkan pada manusia baru ditemukan di Cekoslowakia pada 1923.
Kucing merupakan hospes definitif (tempat hidup utama) parasit ini. Sebenarnya parasit ini dapat juga ditemukan pada beberapa jenis hewan, namun hanya pada usus kucing parasit berkembang biak secara seksual maupun aseksual dengan cara membelah diri. Infeksi akan terjadi bila bentuk yang infektif ini tertelan oleh hospes yang sesuai, yaitu jenis mamalia, burung, tak terkecuali manusia. Dalam tubuh hospes perantara ini, parasit hanya dapat berkembang biak secara aseksual.
Siklus Parasit Toxoplasma
Kucing dapat mengidap toxoplasma setelah menelan setidaknya satu dari tiga bentuk infektif parasit yaitu : kista, ookista atau takizoit. Siklus intraintestinal akan terjadi bila kista yang terkandung dalam tubuh burung atau tikus (sebagai hospes perantara) tertelan oleh kucing, yang merupakan predatornya.Parasit kemudian akan menggandakan diri pada dinding usus dan menghasilkan ookista, yang terekskresi melalui feses kucing dalam waktu 2-3 minggu. Dalam jangka waktu 5 hari, ookista bersporulasi menjadi bentuk yang infeksius terhadap manusia dan jenis hewan lainnya.
Bentuk ini mempunyai ketahanan yang cukup tinggi terhadap kondisi lingkungan, serta dapat bertahan pada tanah yang cukup lembab dan pasir dalam jangka waktu beberapa bulan. Selama siklus intra intestinal (dalam usus) berlangsung, sejumlah parasit toxoplasma melakukan penetrasi pada dinding usus dan menggandakan diri menjadi bentuk takizoit. Tak lama kemudian bentuk ini akan keluar dari usus dan menyebar ke bagian tubuh lain, untuk memulai siklus ekstra intestinal (diluar usus). Pada akhirnya sistim immune (kekebalan) kucing akan menghambat perkembangan bentuk infeksius ini, dan menyebabkan terkumpulnya bentuk bradizoit yang bersifat dormant (tidur) pada jaringan otak dan otot. Kebanyakan bentuk kista akan tetap terdapat dalam tubuh hospes sepanjang hidupnya dalam keadaan dormant(tidur). Secara perlahan bentuk ini akan berubah menjadi bentuk kista dan menyebabkan infeksi kronik pada hospes perantara. Siklus ekstra intestinal (diluar usus) ini tidak hanya terjadi dalam tubuh kucing, namun dapat juga terjadi pada hospes perantara, termasuk diantaranya manusia.
Bagaimana Penularan Toxoplasma ?
Toxoplasma dapat ditularkan melalui tiga cara :
1. Kontak langsung dengan feses kucing yang telah terinfeksi
Menurut sebuah penelitian, feses(tinja) seekor kucing mengandung tidak kurang dari 10 juta ookista setelah 2 minggu terinfeksi. Bentuk ookista biasanya terjadi 2-5 hari setelah parasit dikeluarkan bersamaan dengan feses(tinja) kucing. Sejauh ini tidak ada metode yang dapat digunakan untuk mencegah binatang peliharaan, khususnya kucing, untuk terinfeksi dan atau menjadi perantara penularan parasit toxoplasma.
2. Memakan daging mentah atau setengah matang
Ratusan jenis hewan mamalia dan burung dapat terinfeksi oleh toxoplasma dengan cara yang hampir sama dengan infeksi yang terjadi pada manusia, yaitu dengan kontak langsung melalui bahan makanan dan air yang telah terkontaminasi oleh parasit toxoplasma. Akibatnya, manusia dapat pula terinfeksi setelah mengkonsumsi jenis hewan yang telah terinfeksi. Pada negara-negara industri, transmisi pada manusia umumnya berkaitan dengan kebiasaan memakan daging setengah matang, terutama daging babi dan domba (pada beberapa daerah di dunia diperkirakan 10% daging domba dan 25% daging babi mengandung bentuk kista toxoplasma). Parasit ini juga dapat terkandung dalam produk susu yang tidak melalui proses pasteurisasi, misalnya susu kambing. Lalat maupun kecoa yang telah melakukan kontak langsung dengan feses kucing juga berpotensi menjadi sumber infeksi.
3. Infeksi kongenital melalui plasenta ibu hamil kepada janinnya.
Parasit toxoplasma tidak dapat menular antar manusia, kecuali dari ibu pada janinnya selama atau sebelum kehamilan berlangsung. Gilbert tahun 2001 memperkirakan bahwa wanita hamil yang menderita toksoplasmosis 25% akan menularkan ke janinnya.
Yang Paling Beresiko Menderita Toxoplasma
Meskipun insiden toxoplasma belum mengalami perubahan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir, kewaspadaan dan perhatian terhadap penyakit ini telah meningkat drastis. Diperkirakan sekitar 30 – 50% populasi dunia telah terinfeksi oleh toxoplasma, dan lebih dari 3000 infeksi toxoplasma terjadi pada kehamilan di Amerika Serikat, sebagian besar tanpa gejala. Penelitian yang dilakukan Gandhahusada tahun 1995 menunjukkan bahwa angka prevalensi toxoplasmosis pada manusia berkisar antara 2-63%, 35-73% pada kucing, 75% pada anjing, 11-61 % pada kambing, 11-36% pada babi, dan kurang dari 10% pada sapi/kerbau (Chandra, 2001).
Kebanyakan infeksi pada manusia dewasa terjadi tanpa gejala, atau hanya menunjukkan gejala ringan seperti peningkatan suhu tubuh dan pembesaran kelenjar limpa. Berdasarkan dampak yang dapat diakibatkan oleh penyakit ini, infeksi kongenital merupakan hal yang patut dicermati. Sekitar 45% penularan toxoplasma terjadi melalui infeksi kongenital. Dari jumlah ini, 60% diantaranya merupakan infeksi sub-klinis, 9% mengakibatkan kematian janin dan 30% menimbulkan dampak yang cukup berat (hydrocephalus, retinochoroiditis, dan retardasi mental).
Dampak infeksi sangat jarang terlihat bila ibu mengalami infeksi pada tri semester terakhir kehamilannya, namun resiko yang lebih buruk terjadi pada infeksi yang berlangsung pada tri semester pertama kehamilan, antara lain kematian janin dan malformasi bayi. Gejala yang lebih jelas terlihat setelah kelahiran, dapat pula muncul beberapa minggu, beberapa bulan bahkan beberapa tahun setelah kelahiran (beberapa gejala klinis bisa jadi baru nampak pada masa pubertas sebagai akibat dari infeksi kongenital). Abnormalitas sistem saraf (retardasi mental) dan penglihatan (kebutaan), hydrocephalus, gangguan pendengaran, demam, jaundice, dengan berbagai komplikasinya, merupakan manifestasi klinis yang biasa dialami oleh pasien toxoplasma. Gejala dan tanda-tanda lain yang mungkin terjadi adalah pembesaran maupun pengecilan kepala, ruam, memar dan pendarahan bawah kulit, anemia serta pembesaran liver dan limpa.
Individu dengan sistem immune yang lemah (pada penderita AIDS, kanker atau pasien transplantasi organ) merupakan golongan yang mempunyai beresiko tinggi menderita infeksi toxoplasma. Parasit dormant yang semula inaktif dapat pecah dan secara tiba-tiba mengganas. Tak heran pada pasien dengan kondisi ini, terutama AIDS, angka relapse dan mortalitas akibat toxoplasma tergolong tinggi.

Mencegah Toxoplasma
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghindari jangkitan penyakit ini, antara lain dengan melakukan langkah-langkah pencegahan berikut ini :
1. Menghindari makan makanan mentah atau setengah matang, terutama daging babi, sapi dan kambing. Pemanasan yang ideal untuk bahan makanan ini adalah 70oC (158oF) selama 15-30 menit. Selain dengan pemanasan, perlakuan lain tidak akan menghilangkan kista toxoplasma.
2. Hindarilah kontak langsung dengan tanah yang merupakan sarana yang paling potensial mengandung ookista, khususnya bila di sekitar kediaman Anda terdapat kucing. Daya tahan ookista cukup lama pada tanah yang lembab dan terhindar dari sinar matahari langsung. Bila Anda tidak dapat menghindari kontak dengan tanah, gunakanlah sarung tangan dan cucilah tangan Anda setelah kontak dengan sabun dan air.
3. Biasakanlah mencuci sayuran dan buah-buahan sebelum dikonsumsi.
4. Pola hidup higienis akan lebih menjamin kesehatan. Bagi Anda yang biasa makan dengan menggunakan tangan, cucilah tangan Anda dengan sabun sebelum makan.
5. Mencuci pisau dan perkakas rumah tangga dapur lain setelah digunakan untuk memotong atau menampung daging mentah, sayuran atau buah-buahan yang belum dicuci dengan sabun dan air panas, untuk menghindari kontaminasi silang antara benda atau bahan mentah dengan bahan makanan yang telah matang.
6. Untuk wanita hamil, usahakan untuk menghindari kontak dengan kucing, apalagi membuang kotorannya. Pemeriksaan darah saat merencanakan kehamilan sangat penting, dan idealnya diulang pada tri semester pertama dan terakhir kehamilan. Pemeriksaan darah seperti ini dapat dilakukan di banyak laboratorium kesehatan di negara kita, sayangnya biayanya cukup mahal.
Bagi Anda penggemar kucing, tips berikut dapat dilakukan untuk meminimalisasi penyebaran parasit toxoplasma :
1. Menyediakan tempat khusus untuk buang air kucing kesayangan Anda.
Anda bisa membeli tempat khusus yang telah diberi cat litter (pasir berbahan zeolit yang dapat Anda beli di toko hewan atau swalayan) atau Anda bisa menggunakan pasir. Latihlah kucing Anda untuk selalu membuang kotoran pada tempat khusus, untuk memudahkan Anda melakukan kontrol terhadap perilaku membuang fesesnya. Buanglah feses kucing setiap hari untuk mencegah ookista bersporulasi menjadi bentuk infektif.
2. Desinfeksi
Lakukan desinfeksi setiap hari dengan air mendidih atau sterilisasi 55 0C pada kandang atau tempat kucing Anda membuang kotoran. Desinfeksi selain dengan kedua cara ini (dengan menggunakan bahan kimia) tidak akan memusnahkan ookista.
3. Kontrol makanan
Hindari memberikan daging mentah pada peliharaan Anda. Usahakan agar kucing Anda tetap berada di rumah agar tidak memangsa rodent atau burung yang mungkin mengandung kista toxoplasma dalam tubuhnya. Berikan makanan yang cukup agar kucing Anda tidak kelaparan lalu memicunya untuk mencari mangsa di luar rumah, hal ini akan mempersulit Anda untuk melakukan kontrol terhadap makanan binatang kesayangan Anda.
Perkembangan lain, selain ada toxo yang berkembang pada organ tubuh kucing. Bulu halus kucing juga dapat menyebabkan gangguan nafas. Terutama pada paru-paru, yang umum disebut nafas mengi (dalam bhs jawa). Nafas ini terjadi bila penggemar kucing sering menciuminya, sehingga sedikitnya 2-3 bulu halus akan ikut terhirup hidung. Sehingga saat bernafas, hidung terasa sedikit gatal dan berbunyi. Biasanya banyak diderita anak-anak dan wanita dewasa yang gemar kucing. (dari berbagai sumber/Ads)

Rubella
1. Identifikasi
Rubella adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan menimbulkan demam ringan dengan ruam pungtata dan ruam makulopapuler yang menyebar dan kadang-kadang mirip dengan campak atau demam scarlet. Anak-anak biasanya memberikan gejala konstitusional yang minimal, tetapi orang dewasa akan mengalami gejala prodromal selama 1-5 hari berupa demam ringan, sakit kepala, malaise, coryza ringan dan konjungtivitis. Limfadenopati post aurikuler, oksipital dan servikal posterior muncul dan merupakan ciri khas dari infeksi virus ini yang biasanya muncul 5-10 hari sebelum timbulnya ruam. Hampir separuh dari infeksi ini tanpa ruam. Lekopeni umum terjadi dan trombositopeni juga bisa terjadi, tetapi manifestasi perdarahan jarang. Arthalgia dan, yang lebih jarang terjadi, arthritis sebagai komplikasi infeksi ini terutama pada wanita dewasa. Ensefalitis dan trombositopeni jarang terjadi pada anak-anak; ensefalitis terjadi lebih sering pada orang dewasa.
Rubella menjadi penting karena penyakit ini dapat menimbulkan kecacatan pada janin. Sindroma rubella congenital (Congenital Rubella Syndrome, CRS) terjadi pada 90% bayi yang dilahirkan oleh wanita yang terinfeksi rubella selama trimester pertama kehamilan; risiko kecacatan congenital ini menurun hingga kira-kira 10-20% pada minggu ke-16 dan lebih jarang terjadi bila ibu terkena infeksi pada usia kehamilan 20 minggu.
Infeksi janin pada usia lebih muda mempunyai risiko kematian di dalam rahim, abortus spontan dan kecacatan congenital dari sistem organ tubuh utama. Cacat yang terjadi bisa satu atau kombinasi dari jenis kecacatan berikut seperti tuli, katarak, mikroftalmia, glaucoma congenital, mikrosefali, meningoensefalitis, keterbelakangan mental, patent ductus arteriosus, defek septum atrium atau ventrikel jantung, purpura, hepatosplenomegali, icterus dan penyakit tulang radiolusen. Penyakit CRS yang sedang dan berat biasanya sudah dapat diketahui ketika bayi baru lahir; sedangkan kasus ringan yang mengganggu organ jantung atau tuli sebagian, bisa saja tidak terdeteksi beberapa bulan bahkan hingga beberapa tahun setelah bayi baru lahir. Diabetes mellitus dengan ketergantungan insulin diketahui sebagai manifestasi lambat dari CRS. Malformasi congenital dan bahkan kematian janin bisa terjadi pada ibu yang menderita rubella tanpa gejala.
Membedakan rubella dengan campak (q.v.), demam scarlet (lihat infeksi Streptokokus) dan penyakit ruam lainnya (misalnya infeksi eritema dan eksantema subitum) perlu dilakukan karena gejalanya sangat mirip. Ruam makuler dan makulopapuler juga terjadi pada sekitar 1-5% penderita dengan infeksi mononucleosis (terutama jika diberikan ampisilin), juga pada infeksi dengan enterovirus tertentu dan sesudah mendapat obat tertentu.
Diangosa klinis rubella kadang tidak akurat. Konfirmasi laboratorium hanya bisa dipercaya untuk infeksi akut. Infeksi rubella dapat dipastikan dengan adanya peningkatan signifikan titer antibodi fase akut dan konvalesens dengan tes ELISA, HAI, pasif HA atau tes LA, atau dengan adanya IgM spesifik rubella yang mengindikasikan infeksi rubella sedang terjadi.
Sera sebaiknya dikumpulkan secepat mungkin (dalam kurun waktu 7-10 hari) sesudah onset penyakit dan pengambilan berikutnya setidaknya 7-14 hari (lebih baik 2-3 minggu) kemudian. Virus bisa diisolasi dari faring 1 minggu sebelum dan hingga 2 minggu sesudah timbul ruam. Virus bisa ditemukan dari contoh darah, urin dan tinja. Namun isolasi virus adalah prosedur panjang yang membutuhkan waktu sekitar 10-14 hari. Diagnosa dari CRS pada bayi baru lahir dipastikan dengan ditemukan adanya antibodi IgM spesifik pada spesimen tunggal, dengan titer antibodi spesifik terhadap rubella diluar waktu yang diperkirakan titer antibodi maternal IgG masih ada, atau melalui isolasi virus yang mungkin berkembang biak pada tenggorokan dan urin paling tidak selama 1 tahun. Virus juga bisa dideteksi dari katarak kongenital hingga bayi berumur 3 tahun.

2. Penyebab penyakit: Virus rubella (famili Togaviridae; genus Rubivirus).

3. Distribusi penyakit
Tersebar di seluruh dunia, umumnya endemis, kecuali pada masyarakat yang terisolasi, terutama masyarakat kepulauan tertentu yang mengalami KLB setiap 10-15 tahun. Penyakit ini banyak muncul pada musim dingin dan musim semi. Wabah yang sangat luas terjadi di AS pada tahun 1935, 1943 dan 1964 dan di Australia pada tahun 1940. Sebelum vaksin rubella diijinkan beredar pada tahun 1969, puncak insidensi rubella terjadi di AS setiap 6-9 tahun sekali. Selama tahun 1990-an insidensi rubella di AS menurun dengan drastic. Namun persentasi kasus diantara orang asing yang lahir disana meningkat tajam pada saat yang sama. Selama tahun 1990-an, KLB rubella di AS terjadi di tempat kerja, pada institusi, di masyarakat umum dan lingkungan lain dimana anak-anak muda dan mereka yang berangkat dewasa berkumpul. Virus rubella bertahan pada orang yang tidak diimunisasi.

4. Reservoir: – Manusia.

5. Cara Penularan
Kontak dengan sekret nasofaring dari orang terinfeksi. Infeksi terjadi melalui droplet atau kontak langsung dengan penderita. Pada lingkungan tertutup seperti di asrama calon prajurit, semua orang yang rentan dan terpajan bisa terinfeksi. Bayi dengan CRS mengandung virus pada sekret nasofaring dan urin mereka dalam jumlah besar, sehingga menjadi sumber infeksi.

6. Masa inkubasi: dari 14-17 hari kisaran antara 14-21 hari.

7. Masa penularan
Sekitar 1 minggu sebelum dan paling sedikit 4 hari sesudah onset ruam; penyakit ini sangat menular. Bayi dengan CRS kemungkinan tetap mengandung virus selama berbulan-bulan sesudah lahir.

8. Kerentanan dan Kekebalan
Semua orang rentan terhadap infeksi virus rubella setelah kekebalan pasif yang didapat melalui plasenta dari ibu hilang. Imunitas aktif didapat melalui infeksi alami atau setelah mendapat imunisasi; kekebalan yang didapat biasanya permanent sesudah infeksi alami dan sesudah imunisasi diperkirakan kekebalan juga akan berlangsung lama, bisa seumur hidup, namun hal ini tergantung juga pada tingkat endemisitas. Di AS, sekitar 10% dari penduduk tetap rentan. Bayi yang lahir dari ibu yang imun biasanya terlindungi selama 6-9 bulan,tergantung dari kadar antibodi ibu yang didapat secara pasif melalui plasenta.
9. Cara-cara Pemberantasan
A. Tindakan pencegahan
1) Lakukan penyuluhan kepada masyarakat umum mengenai cara penularan dan pentingnya imunisasi rubella. Penyuluhan oleh petugas kesehatan sebaiknya menganjurkan pemberian imunisasi rubella untuk semua orang yang rentan. Upaya diarahkan untuk meningkatkan cakupan imunisasi rubella pada orang dewasa dan dewasa muda yang rentan; perlu dikaji tingkat kekebalan orang-orang yang lahir di luar AS, hal ini perlu diberikan Perhatian khusus.
2) Berikan dosis tunggal vaksin hidup, yaitu vaksin virus rubella yang dilemahkan (Rubella virus vaccine, Live), dosis tunggal ini memberikan respons antibodi yang signifikan, yaitu kira-kira 98-99% dari orang yang rentan.

3) Vaksin ini dikemas dalam bentuk kering dan sesudah dilarutkan harus disimpan dalam suhu 2-80C (35,60- 46,40F) atau pada suhu yang lebih dingin dan dilindungi dari sinar matahari agar tetap poten. Vaksin virus bisa ditemukan pada nasofaring dari orang-orang yang telah diimunisasi pada minggu ke-2 hingga ke-4 sesudah imunisasi, umumnya hanya bertahan selama beberapa hari, namun virus ini tidak menular. Di AS, imunisasi kepada semua anak-anak direkomendasikan diberikan pada usia 12-15 bulan sebagai bagian dari vaksin kombinasi campak dan vaksin gondongan (Measles Mumps and Rubella=MMR) dan dosis kedua MMR diberikan pada usia anak masuk sekolah atau dewasa muda. Ditemukannya penyakit rubella terus-menerus diantara orang-orang yang lahir di luar AS, mengindikasikan bahwa pemberian imunisasi rubella harus dilakukan pada komunitas ini. Vaksin rubella dapat diberikan kepada semua wanita yang tidak hamil tanpa kontraindikasi. Dewasa muda yang rentan dan mempunyai riwayat kontak dengan anak-anak atau berkumpul bersama di kampus atau institusi lain seperti tinggal di asrama sebaiknya diimunisasi. Semua petugas kesehatan sebaiknya sudah kebal terhadap rubella terutama orang-orang yang kontak dan merawat penderita di bagian prenatal. Bukti adanya kekebalan diindikasikan dengan adanya antibodi spesifik terhadap rubella dan pemeriksaan laboratorium atau bukti tertulis bahwa seseorang telah diimunisasi rubella pada saat atau sesudah ulang tahunnya yang pertama.
Vaksin rubella sebaiknya tidak diberikan kepada orang yang tidak mempunyai sistem kekebalan atau mendapat terapi imunosupresif; namun MMR direkomendasikan untuk diberikan kepada orang-orang dengan infeksi HIV yang asimtomatik. Pemberian vaksin MMR sebaiknya dipertimbangkan bagi penderita HIV dengan gejala. Secara teoritis, wanita yang diketahui hamil atau merencanakan hamil, 3 bulan mendatang sebaiknya tidak diimunisasi. Namun dari hasil catatan di CDC Atlanta menunjukkan bahwa dari 321 wanita yang diimunisasi rubella pada waktu hamil, semuanya melahirkan aterm dengan bayi yang sehat.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada program imunisasi rubella adalah selalu menanyakan kepada wanita pasca pubertas apakah mereka hamil, dan mereka yang menyatakan ya tidak diberikan imunisasi dan kepada yang lain yang tidak hamil diberi penjelasan pentingnya mencegah kehamilan selama 3 bulan mendatang serta diberi penjelasan risiko teoritis yang akan terjadi jika hal ini dilanggar. Status imunisasi seseorang hanya dapat dapat dipercaya bila dilakukan tes serologis, namun hal ini tidak terlalu penting untuk diketahui sebelum pemberian imunisasi karena vaksin ini sangat aman diberikan kepada orang yang sudah kebal. Di beberapa negara, imunisasi rutin diberikan kepada gadis remaja usia 11 hingga 13 tahun dengan atau tanpa tes antibodi sebelumnya. Di banyak negara yaitu AS, Australia dan Skandinavia, dosis kedua vaksin MMR direkomendasikan untuk diberikan kepada remaja pria maupun wanita. Untuk lebih jelasnya, lihat penjelasan mengenai Campak, 9A1.
4) Jika diketahui adanya infeksi alamiah pada awal kehamilan, tindakan aborsi sebaiknya dipertimbangkan karena risiko terjadinya cacat pada janin sangat tinggi. Pada beberapa penelitian yang dilakukan pada wanita hamil yang tidak sengaja diimunisasi, kecacatan kongenital pada bayi yang lahir hidup tidak ditemukan; dengan demikian imunisasi yang terlanjur diberikan pada wanita yang kemudian ternyata hamil tidak perlu dilakukan aborsi, tetapi risiko mungkin terjadi sebaiknya dijelaskan. Keputusan akhir apabila akan dilakukan aborsi diserahkan kepada wanita tersebut dan dokter yang merawatnya.
5) IG yang diberikan sesudah pajanan pada awal masa kehamilan mungkin tidak melindungi terhadap terjadinya infeksi atau viremia, tetapi mungkin bisa mengurangi gejala klinis yang timbul. IG kadang-kadang diberikan dalam dosis yang besar (20 ml) kepada wanita hamil yang rentan yang terpajan penyakit ini yang tidak menginginkan dilakukan aborsi karena alasan tertentu, tetapi manfaatnya belum terbukti.

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar
1) Laporan kepada petugas kesehatan setempat: Semua kasus rubella dan CRS harus dilaporkan. Di AS, laporan wajib dilakukan, Kelas 3 B (lihat tentang pelaporan penyakit menular).
2) Isolasi: Di rumah sakit dan institusi lain, terhadap penderita yang dicurigai menderita rubella sebaiknya dirawat dengan tindakan pencegahan isolasi kontak dan ditempatkan di ruang terpisah; upaya harus dilakukan untuk mencegah pajanan kepada wanita hamil yang tidak diimunisasi . Anak-anak yang sakit dilarang ke sekolah dan begitu juga orang dewasa yang sakit dilarang bekerja selama 7 hari sesudah munculnya ruam. Bayi dengan CRS mungkin mengandung virus dalam tubuhnya untuk jangka waktu yang lama. Semua orang yang kontak dengan bayi dengan CRS harus sudah kebal terhadap rubella dan bayi-bayi ini sebaiknya dipisahkan di ruang isolasi. Terhadap bayi yang menderita CRS ini tindakan tindakan kewaspadaan isolasi sebaiknya diberlakukan setiap saat bayi ini dirawat di rumah sakit sebelum bayi berusia 1 tahun, kecuali hasil kultur faring dan urin negatif tidak ditemukan virus sesudah bayi berumur lebih dari 3 bulan.
3) Disinfeksi serentak: Tidak dilakukan.
4) Karantina: Tidak dilakukan.
5) Imunisasi kontak: Pemberian imunisasi selama tidak ada kontraindikasi (kecuali selama kehamilan) tidak mencegah infeksi atau kesakitan. Imunisasi pasif dengan IG tidak dianjurkan (kecuali seperti yang dijelaskan pada 9A4 di atas).
6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: Lakukan investigasi dan identifikasi wanita hamil yang kontak dengan penderita, terutama wanita hamil pada trimester pertama. Mereka yang pernah kontak dengan penderita ini sebaiknya dilakukan pemeriksaan serologis untuk melihat tingkat kerentanannya atau untuk melihat apakah ada infeksi awal (antibodi IgM) dan terhadap mereka diberi nasihat seperlunya.
7) Pengobatan spesifik: Tidak ada.

C. Penanggulangan wabah
1) Untuk menanggulangi KLB rubella, laporkan segera seluruh penderita dan tersangka rubella dan seluruh kontak dan mereka yang masih rentan diberi imunisasi.
2) Petugas dan praktisi kesehatan serta masyarakat umum sebaiknya diberi informasi tentang adanya KLB rubella agar dapat mengidentifikasi dan melindungi wanita hamil yang rentan.

(Cytomegalovirus, CMV)

1. Identifikasi
Manifestasi klinis berat oleh infeksi virus ini terjadi sekitar 5 – 10 % pada bayi yang terinfeksi in utero. Bayi ini menunjukkan gejala dan tanda-tanda klinis dari infeksi umum yang berat, terutama menyerang sistem saraf pusat (CNS) dan hati. Letargi, kejang, ikterus, petechiae, purpura, hepatosplenomegali, chorioretinitis, kalsifikasi intraserebral dan infiltrat paru terjadi dengan derajat yang berbeda. Anak yang bertahan hidup dapat menjadi anak dengan retardasi mental, mikrosepali, gangguan sistem motorik, kehilangan pendengaran dan muncul penyakit hati kronis. Kematian bisa terjadi in utero; CFR-nya tinggi pada bayi dengan infeksi berat. Walaupun infeksi CMV pada neonatus terjadi hanya pada 0,3 – 1 % kelahiran, 90 – 95 % dari infeksi intrauterine ini tidak menunjukan gejala, namun sekitar 15 – 25 % dari bayi ini akhirnya menunjukkan gejala terjadinya kerusakan neurosensor. Infeksi pada janin bisa merupakan infeksi primer atau infeksi maternal yang mengalami reaktivasi. Namun infeksi primer mempunyai risiko lebih tinggi untuk timbulnya gejala klinis dan gejala sisa. Bayi baru lahir seronegatif yang menerima transfusi darah dari donor seropositif bisa terkena infeksi menjadi penyakit yang berat.

Infeksi yang terjadi pada usia-usia selanjutnya biasanya tanpa gejala dan ada juga yang menunjukkan gejala klinis dan hematologis yang mirip dengan infeksi virus mononukleosis Epstein-Barr. Namun kedua penyakit ini dapat dibedakan dengan tes serologis dan virologis serta dan ditemukannya antibodi heterofil. CMV merupakan penyebab sekitar 10 % kasus mononukleosis yang ditemukan pada mahasiswa dan orang dewasa yang dirawat di rumah sakit yang berusia antara 25 – 34 tahun. CMV adalah penyebab mononukleosis pasca transfusi yang paling umum diketahui menimpa orang-orang yang tidak kebal terhadap virus ini; banyak infeksi pasca transfusi tidak menimbulkan gejala klinis. Infeksi yang menyebar, dengan gejala pneumonitis, retinitis, gangguan saluran pencernaan (gastritis, enteritis, colitis) dan hepatitis, terjadi pada orang-orang dengan imunodefisiensi dan imunosupresi; biasanya ini merupakan manifestasi serius dari penderita AIDS.

CMV juga sebagai penyebab paling umum infeksi pasca transplantasi, baik melalui transplantasi organ maupun sumsum tulang belakang; pada transplantasi organ, infeksi terjadi spesifiknya pada resipien seronegatif dan donor seropositif (carrier), sedangkan infeksi pasca transplantasi sumsum tulang terjadi sebagai reaksi reaktivasi. Pada kedua kejadian ini, baik transplantasi organ maupun sumsum tulang rata-rata angka kesakitan timbulnya penyakit serius sekitar 25 %.

Diagnosa pada bayi baru lahir dibuat dengan isolasi virus atau dengan PCR, biasanya dari sampel urin. Diagnosa infeksi CMV pada orang dewasa menjadi sulit karena tingginya frekuensi penyakit tanpa gejala dan relaps. Untuk menegakkan diagnosa sebaiknya dilakukan berbagai cara pemeriksaan bila memungkinkan. Isolasi virus, deteksi antigen CMV (bisa dilakukan dalam waktu 24 jam), deteksi DNA CMV dengan PCR atau hibridisasi in situ dapat dilakukan untuk melihat adanya virus pada organ, darah, sekret saluran pernafasan dan urin. Studi serologis sebaiknya dilakukan untuk melihat adanya antibodi spesifik IgM dari CMV atau adanya kenaikan 4 kali lipat titer antibodi. Interpretasi hasil pemeriksaan ini membutuhkan pengetahuan tentang latar belakang epidemiologis dan klinis dari penderita.

2. Penyebab penyakit – Human (beta) herpesvirus 5 (CMV manusia), salah satu anggota dari subfamili Betaherpesvirus dari famili Herpesviridae; termasuk beberapa strain yang sama secara antigenik.

3. Distribusi penyakit
Tersebar diseluruh dunia. Di AS, infeksi intrauterin terjadi pada 0,5 % hingga 1 % kehamilan. Di negara-negara berkembang, infeksi ini didapat pada awal kehidupan. Prevalensi antibodi serum pada orang dewasa bervariasi mulai dari 40 % di negara maju sampai dengan 100 % di negara berkembang; di AS hal ini berhubungan dengan status sosial ekonomi dari penduduk, sedangkan Distribusi Penyakit ini lebih tinggi pada wanita daripada pria. Di Inggris, prevalensi antibodi berkaitan dengan ras daripada status social. Diberbagai populasi berbeda ditemukan 8 – 60 % bayi sudah mengeluarkan virus pada urin pada tahun pertama usia mereka, sebagai akibat terkena infeksi dari serviks ibu atau mendapatkan infeksi melalui ASI.

4. Reservoir – Manusia diketahui sebagai satu-satunya reservoir bagi CMV manusia; strain yang ditemui pada binatang tertentu tidak menular kepada manusia.

5. Cara penularan
Penularan terjadi melalui kontak langsung selaput lendir dengan jaringan, sekret ataupun ekskreta yang infeksius. CMV di ekskresikan melalui urin, ludah, ASI, sekret serviks dan semen pada infeksi primer maupun pada infeksi reaktivasi. Janin bisa tertular in utero dari ibu baik berupa infeksi primer maupun berupa infeksi reaktivasi; infeksi janin dengan manifestasi klinis yang berat pada waktu lahir sering terjadi sebagai akibat infeksi primer dari ibu, namun infeksi (biasanya tanpa gejala) bisa juga terjadi walaupun antibodi maternal telah ada sebelum konsepsi. Infeksi post natal sering terjadi pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mengandung CMV pada sekret serviks mereka; dengan demikian penularan dari serviks yang terinfeksi adalah cara penularan yang paling umum terjadi sebagai penyebab infeksi neonatus. Virus dapat ditularkan kepada bayi melalui ASI, cara ini merupakan sumber infeksi yang penting tetapi bukan sebagai penyebab penyakit. Viremia mungkin juga terjadi pada penderita asimptomatik sehingga bila ia jadi donor virus bisa ditularkan melalui transfusi darah, penularan mungkin terjadi melalui lekosit. Ditemukan bahwa CMV di ekskresikan oleh sebagian besar anak-anak di tempat penitipan, hal ini bisa menjadi sumber infeksi bagi masyarakat. Penularan melalui hubungan seks umum terjadi dan ini dapat dilihat dari penderita dikalangan homoseksual yang berhubungan seks dengan banyak pasangan.

6. Masa inkubasi – Gejala sakit pasca transplantasi ataupun pasca transfusi yang mengandung virus akan muncul dalam waktu 3 – 8 minggu. Sedangkan Infeksi yang didapat pada waktu proses kelahiran gejala klinis akan tampak 3 – 12 minggu sesudah kelahiran.

7. Masa penularan
Virus di ekskresikan melalui urin dan air ludah selama beberapa bulan dan tetap bertahan atau akan muncul secara periodik selama beberapa tahun sesudah infeksi primer. Sesudah infeksi neonatal, virus mungkin di ekskresikan selama 5 – 6 tahun. Orang dewasa mengekskresikan virus dalam jangka waktu yang lebih pendek, namun virus akan tetap ada sebagai infeksi laten. Kurang dari 3 % orang dewasa sehat mengekskresikan virus melalui faring. Ekskresi akan timbul kembali dengan adanya imunodefisiensi dan imunosupresi.

8. Kekebalan dan kerentanan
Infeksi tersebar di mana – mana. Janin, penderita penyakit yang melemahkan kondisi tubuh, mereka yang mendapatkan pengobatan yang menyebabkan imunosupresi dan terutama resipien organ (ginjal, jantung, sum-sum tulang) serta penderita AIDS lebih rentan terkena infeksi dan rentan untuk menderita penyakit yang berat.

9. Cara -cara pemberantasan.
A. Cara-cara pencegahan:
1) Waspada dan hati-hati pada waktu mengganti popok bayi, cuci tangan dengan baik sesudah mengganti popok bayi dan buanglah kotoran bayi di jamban yang saniter.
2) Wanita usia subur yang bekerja di rumah sakit (terutama yang bekerja dikamar bersalin dan bangsal anak) sebaiknya memperhatikan prinsip tindakan kewaspadaan universal; sedangkan pada tempat penitipan anak dan anak prasekolah lakukan prosedur standar yang ketat tentang kebersihan perorangan seperti kebiasaan mencuci tangan. Terhadap anak-anak dengan retardasi mental diberikan perhatian lebih spesifik.
3) Hindari melakukan transfusi kepada bayi baru lahir dari ibu yang seronegatif dengan darah donor dengan seropositif CMV.
4) Hindari transplantasi jaringan organ dari donor seropositif CMV kepada resipien yang seronegatif. Jika hal ini tidak dapat dihindari, maka pemberian IG hiperimun atau pemberian antivirus profilaktik mungkin menolong.

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar.
1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat: laporan resmi tidak diperlukan, Kelas 5 (lihat tentang pelaporan penyakit menular).
2) Isolasi: tidak dilakukan. Lakukan tindakan kewaspadaan terhadap sekret yang dikeluarkan oleh penderita yang diduga mengekskresikan virus.
3) Disinfeksi serentak: Disinfeksi dilakukan terhadap discharge dari penderita yang dirawat di Rumah Sakit dan terhadap benda-benda yang tercemar.
4) Karantina: tidak dilakukan.
5) Imunisasi kontak: Vaksin secara komersial tidak tersedia.
6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: Tidak dilakukan, karena tingginya angka prevalensi orang yang tidak menunjukkan gejala klinis di masyarakat.
7) Pengobatan spesifik: Ganciclovir, intra vena dan per oral, foscarnet IV dipakai untuk pengobatan retinitis CMV pada orang-orang dengan tingkat kekebalan rendah. Obat-obatan ini mungkin lebih bermanfaat, jika dikombinasikan dengan imuno globulin anti-CMV, untuk penderita pneumonitis dan penyakit gastro intestinal pada orang-orang yang immunocomporomised.

C. Penanggulangan Wabah : Tidak ada.
Infeksi sitomegalovirus (Cytomegalovirus, CMV) sangat sering terjadi namun jarang menimbulkan gejala; bila timbul gejala, manifestasinya sangat bervariasi tergantung pada umur dan tingkat kekebalan dari orang tersebut ada waktu terkena infeksi.

Herpes Simpleks
DEFINISI
Infeksi Herpes Simpleks ditandai dengan episode berulang dari lepuhan-lepuhan kecil di kulit atau selaput lendir, yang berisi cairan dan terasa nyeri.

Herpes simpleks menyebabkan timbulnya erupsi pada kulit atau selaput lendir.
Erupsi ini akan menghilang meskipun virusnya tetap ada dalam keadaan tidak aktif di dalam ganglia (badan sel saraf), yang mempersarafi rasa pada daerah yang terinfeksi.

Secara periodik, virus ini akan kembali aktif dan mulai berkembangbiak, seringkali menyebabkan erupsi kulit berupa lepuhan pada lokasi yang sama dengan infeksi sebelumnya.
Virus juga bisa ditemukan di dalam kulit tanpa menyebabkan lepuhan yang nyata, dalam keadaan ini virus merupakan sumber infeksi bagi orang lain.

Timbulnya erupsi bisa dipicu oleh:
– pemaparan cahaya matahari
– demam
– stres fisik atau emosional
– penekanan sistem kekebalan
– obat-obatan atau makanan tertentu.
PENYEBAB
Terdapat 2 jenis virus herpes simpleks yang menginfeksi kulit, yaitu HSV-1 dan HSV-2.
HSV-1 merupakan penyebab dari luka di bibir (herpes labialis) dan luka di kornea mata (keratitis herpes simpleks); biasanya ditularkan melalui kontak dengan sekresi dari atau di sekitar mulut.
HSV-2 biasanya menyebabkan herpes genitalis dan terutama ditularkan melalui kontak langsung dengan luka selama melakukan hubungan seksual.
GEJALA
Herpes simpleks yang kambuh ditandai dengan adanya kesemutan, rasa tidak nyaman atau rasa gatal, yang dirasakan beberapa jam sampai 2-3 hari sebelum timbulnya lepuhan.
Lepuhan yang dikelilingi oleh daerah kemerahan dapat muncul di mana saja pada kulit atau selaput lendir, tetapi paling sering ditemukan di dalam dan di sekitar mulut, bibir dan alat kelamin.
Lepuhan (yang bisa saja terasa nyeri) cenderung membentuk kelompok, yang begabung satu sama lain membentuk sebuah kumpulan yang lebih besar.

Beberapa hari kemudian lepuhan mulai mengering dan membentuk keropeng tipis yang berwarna kekuningan serta ulkus yang dangkal.
Penyembuhan biasanya dimulai dalam waktu 1-2 minggu kemudian dan biasanya sembuh total dalam waktu 21 hari. Tetapi penyembuhan di bagian tubuh yang lembab berjalan lebih lambat.
Jika erupsi tetap berkembang pada tempat yang sama atau jika terjadi infeksi bakteri sekunder, maka bisa timbul beberapa jaringan parut.

Infeksi herpes yang pertama pada bayi atau anak kecil bisa menyebabkan luka yang terasa nyeri dan perdangan pada mulut dan gusi (ginggivostomatitis) atau peradangan vulva dan vagina yang terasa nyeri (vulvovaginitis).
Keadaan ini menyebabkan anak menjadi rewel, nafsu makannya menurun dan demam.
Pada bayi dan anak yang lebih besar, infeksi bisa menyebar melalui darah ke organ dalam (termasuk otak).

Seorang ibu hamil yang menderita infeksi HSV-2 bisa menularkan infeksi kepada janinnya, terutama jika infeksi terjadi pada usia 6-9 bulan kehamilan.
Virus herpes simpleks pada janin bisa menyebabkan peradangan ringan selaput otak (meningitis) atau kadang menyebabkan peradangan otak yang berat (ensefalitis).

Jika bayi atau dewasa yang menderita eksim atopik terinfeksi oleh virus herpes simpleks, maka bisa terjadi eksim herpetikum, yang bisa berakibat fatal. Karena itu penderita eksim atopik sebaiknya tidak berhubungan dengan penderita infeksi herpes yang aktif.
Pada penderita AIDS, infeksi herpes di kulit bisa bersifat menetap dan berat. Peradangan kerongkongan dan usus, ulkus di sekitar anus, pneumonia atau kelainan saraf juga lebih sering terjadi pada penderita AIDS.

Abses herpetik (herpetic whitlow) adalah suatu pembengkakan di ujung jari tangan yang terasa sakit dan berwarna kemerahan, yang disebabkan oleh virus herpes simpleks yang masuk melalui luka di kulit.
Abses herpetik paling sering terjadi pada pegawai rumah sakit yang belum pernah menderita herpes simpleks dan bersentuhan dengan cairan tubuh yang mengandung virus herpes simpleks.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya yang timbul di bagian tubuh tertentu dan khas untuk herpes simpleks.

Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pembiakan virus, pemeriksaan darah untuk mengetahui adanya peningkatan kadar antibodi serta biopsi.
Pada stadium yang sangat dini, diagnosis ditegakkan dengan menggunakan teknik terbaru yaitu reaksi rantai polimerase, yang bisa digunakan untuk mengenali DNA dari virus herpes simpleks di dalam jaringan atau cairan tubuh.
PENGOBATAN
Untuk sebagian besar penderita, satu-satunya pengobatan herpes labialis adalah menjaga kebersihan daerah yang terinfeksi dengan mencucinya dengan sabun dan air.
Lalu daerah tersebut dikeringkan; jika dibiarkan lembab maka akan memperburuk peradangan, memperlambat penyembuhan dan mempermudah terjadinya infeksi bakteri.
Untuk mencegah atau mengobati suatu infeksi bakteri, bisa diberikan salep antibiotik (misalnya neomisin-basitrasin). Jika infeksi bakteri semakin hebat atau menyebabkan gejala tambahan, bisa diberikan antibiotik per-oral atau suntikan .

Krim anti-virus (misalnya idoksuridin, trifluridin dan asiklovir) kadang dioleskan langsung pada lepuhan.
Asiklovir atau vidarabin per-oral bisa digunakan untuk infeksi herpes yang berat dan meluas.
Kadang asiklovir perlu dikonsumsi setiap hari untuk menekan timbulnya kembali erupsi kulit, terutama jika mengenai daerah kelamin.

Untuk keratitis herpes simpleks atau herpes genitalis diperlukan pengobatan khusus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: